dr. Karina Dyahtantri P., M.Ked.Klin., Sp.DV

Spesialis Dermatologi dan Veneorologi

Proses penuaan ditandai dengan penurunan fungsi dan struktur seluruh jaringan termasuk jaringan kulit. Kulit merupakan organ yang dapat langsung terlihat sehingga perubahan kulit akibat proses penuaan dapat berpengaruh secara langsung pada tingkat kepercayaan diri seseorang. Penuaan pada jaringan kulit merupakan hal penting yang menjadi perhatian karena memiliki konsekuensi medis, psikologis, dan sosial.

Proses penuaan kulit dipengaruhi oleh faktor dari luar tubuh maupun faktor dari dalam tubuh. Proses penuaan dari luar tubuh terutama disebabkan oleh efek jangka panjang paparan berulang radiasi ultraviolet (UV), sehingga dikenal dengan photoaging. Pajanan radiasi ultraviolet dalam kegiatan sehari-hari sulit dihindari oleh populasi yang tinggal di Indonesia. Letak geografis Indonesia yang berada pada sekitar garis khatulistiwa, yaitu 6o lintang utara (LU) dan 11o lintang selatan (LS) berpengaruh pada penerimaan harian paparan radiasi UV yang cukup tinggi. Lebih dari 80% gambaran penuaan kulit yang tampak di wajah disebabkan oleh paparan radiasi sinar UV kronis yang menyebabkan peningkatan bintik hitam dan kerusakan struktur penyokong kulit akibat pembentukan radikal bebas. Tampilan dampak photoaging tersebut yaitu berupa bintik hitam, kerutan, dan pembesaran pori-pori.

Bintik hitam pada kulit sebagai tanda klinis photoaging memegang peranaan penting karena seringkali mengganggu tampilan estetik. Bintik hitam terbentuk akibat radiasi ultraviolet yang secara langsung mempengaruhi melanosit yaitu sel pada lapisan epidermis yang bertanggung jawab memproduksi pigmen melanin. Paparan sinar matahari jangka panjang terhadap kulit menyebabkan kepadatan melanosit meningkat dua kali lebih banyak dibanding kulit yang terlindungi.

Pajanan sinar matahari dapat menyebabkan pembentukan kerutan melalui penurunan kekuatan tegangan, elastisitas, dan dapat menyebabkan kerusakan komponen struktural yaitu kolagen. Radiasi ultraviolet dapat meningkatkan radikal bebas sehingga menyebabkan kerusakan kolagen. Proses tersebut secara simultan akan menyebabkan penurunan produksi kolagen dan peningkatan kerusakan kolagen, sehingga menimbulkan tampilan klinis berupa kerutan yang nyata.

Pori-pori merupakan struktur kulit yang berada di permukaan, sehingga perubahan bentuk pori-pori akan mudah terlihat apabila terjadi kerusakan pada struktur di bawahnya. Proses pori-pori yang membesar diperkirakan terjadi akibat kulit kehilangan kemampuan untuk meregang dan kembali ke bentuk asal yang secara spesifik dipengaruhi oleh keutuhan serabut elastin sebagai salah satu komponen penyokong kulit pada lapisan dermis. Faktor pemicu kerusakan serabut elastin tersebut adalah radikal bebas yang terbentuk akibat paparan radiasi ultraviolet (UV). Elastisitas kulit yang menurun menyebabkan tampilan pori-pori kulit melebar.

Manajemen untuk mencegah bertambahnya photoaging yang disebabkan oleh radiasi UV diantaranya adalah menghindari paparan sinar matahari secara langsung, memakai tabir surya yang tepat, serta memakai pelindung seperti topi atau payung. Terapi tertentu diperlukan apabila telah terjadi proses photoaging yang mengganggu penampilan, diantaranya yaitu pemakaian krim dengan kandungan tertentu, tindakan peeling, injeksi toksin botulinum, tindakan microneedling, serta tindakan laser yang disesuaikan dengan kebutuhan individual dibawah pengawasan dokter.

Writter : dr. Karina Dyahtantri P., M.Ked.Klin., Sp.DV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *