dr. Niken Wening, Sp.OG

Spesialis Obstetri dan Ginekologi

Seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi MedicElle Clinic yang dikenal cukup ramah dan care terhadap pasien nya

Penyakit kanker hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Salah satunya kanker serviks. Penyakit ini, atau yang juga dikenal dengan kanker leher rahim, adalah salah satu jenis kanker yang banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia. Menurut data Kemenkes, kanker serviks menempati peringkat kedua setelah kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak diidap wanita Indonesia.

Sebagaimana penyakit kanker yang lain, kanker serviks juga terjadi atas pengaruh banyak hal. Faktor risiko, baik yang tidak dapat diubah, maupun dapat diubah, saling “bekerjasama” agar terjadi penyakit ini. Selain oleh karena adanya faktor risiko, beberapa hal spesifik dapat memicu berkembangnya sel kanker serviks, seperti infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Lebih dari setengah jumlah penderita kanker serviks, terbukti mengalami infeksi HPV tipe 16 dan 18 sebelumnya. Dengan informasi ini, kanker serviks seharusnya dapat dicegah.

Pada penderita kanker serviks, leher rahim yang normalnya licin dan tidak berdungkul, berubah bentuknya. Semakin kasar dan berdungkul, semakin berbahaya. Di awal, sering kali penderita kurang menyadari adanya perubahan tersebut karena perubahan yang terjadi bersifat lambat laun. Sehingga pencegahan sejak dini menjadi sangat penting.

Vaksinasi HPV merupakan salah satu program yang dapat diikuti masyarakat sebagai upaya mencegah terjadinya kanker serviks. Di Indonesia, vaksin HPV yang tersedia adalah vaksin bivalen (tipe HPV 16 dan 18) dan tetravalen (tipe HPV 6, 11, 16, dan 18). Pada vaksin tetravalen, selain mencegah kanker serviks, juga dapat memberi perlindungan terhadap HPV tipe 6 dan 11, yang sering menyebabkan terjadinya kutil kelamin. Vaksin diberikan dengan cara menyuntikkan ke dalam otot bahu terbesar (otot deltoid). Pemberian sebanyak tiga kali, yaitu bulan 0, dilanjutkan 1 atau 2 bulan setelah pemberian vaksin pertama (bergantung jenis vaksin yang disuntikkan), dan pada bulan 6.

Pemberian vaksin HPV pada remaja putri disarankan pada usia 10 tahun ke atas. Pada usia tersebut, mereka belum melakukan hubungan seksual, sehingga hampir pasti mereka belum terinfeksi HPV. Bila vaksin baru diberikan setelah seseorang aktif berhubungan seksual, vaksin akan menjadi tidak efektif karena mungkin saja orang tersebut sudah terinfeksi HPV sebelumnya.

Bila vaksin HPV diberikan pada usia 10-13 tahun, pemberiannya cukup dua dosis, sedangkan jika diberikan di usia 16-18 tahun, membutuhkan dosis lebih banyak. Walau hanya diberikan dua dosis di usia 10-13 tahun, tidak berarti fungsi perlindungannya lebih rendah daripada yang diberikan tiga dosis di usia 16-18 tahun. Mengingat harga vaksin yang tergolong cukup mahal, melakukan vaksinasi di usia 10-13 tahun, akan jauh lebih menguntungkan.

Besar sekali manfaat di kemudian hari yang didapat dari melakukan vaksinasi HPV. Orang tua dapat membawa anaknya ke rumah sakit atau klinik-klinik terdekat yang menyediakan vaksin HPV untuk melakukan vaksinasi HPV. Hingga saat ini, program vaksin HPV belum menjadi program imunisasi nasional, tetapi beberapa daerah di Indonesia sudah melakukan vaksinasi HPV secara cuma-cuma pada anak kelas 5-6 SD.

Referensi:

http://www.depkes.go.id/development/site/depkes/index.php?cid=1-17073100005&id=cegah-kanker-serviks-kenali-lebih-dalam-pembunuh-nomor-satu-kaum-hawa

http://www.depkes.go.id/article/view/19020100003/hari-kanker-sedunia-2019.html

https://www.cancer.gov/types/cervical/patient/cervical-prevention-pdq#section/all

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/sekilas-tentang-vaksin-hpv

dr Niken Wening Sp.OG

https://www.medicelle.co.id/our-doctors/schedule/

https://www.medicelle.co.id/our-doctors/profiles/dr-niken-wening-suryanti-spog/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *