Infeksi pada payudara kerap dialami oleh wanita, terutama saat menyusui, namun tidak menutup kemungkinan terjadi di luar periode tersebut. Dua kondisi yang sering tertukar adalah mastitis dan abses payudara. Keduanya sama-sama menimbulkan nyeri dan kemerahan, namun memiliki karakteristik berbeda yang perlu dikenali agar tidak terjadi penanganan yang salah. Artikel ini akan membahas perbedaan dari segi definisi, gejala, faktor risiko, metode pengobatan, hingga pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Definisi dan Penyebab

Mastitis adalah peradangan jaringan payudara yang umumnya terjadi akibat saluran ASI yang tersumbat atau infeksi ringan dari luka kecil di puting. Peradangan ini bisa menyebabkan pembengkakan dan demam, meskipun tidak selalu disertai nanah.

Sementara itu, abses payudara merupakan infeksi lanjutan dari mastitis  yang tidak tertangani, sehingga berkembang menjadi kantung berisi nanah di dalam jaringan payudara. Artinya, abses bisa jadi merupakan tahap komplikasi dari mastitis yang dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan yang tepat.

Perlu diketahui juga bahwa abses payudara lebih sering melibatkan infeksi bakteri, seperti Staphylococcus aureus, yang masuk ke dalam jaringan payudara dari luar melalui luka yang kadang tampak mata kadang juga tidak tampak. Bukan cuman Staphylococcus aureus, bakteri ​​Mycobacterium tuberculosis yaitu kuman penyebab TBC yang masuk bisa melalui luka pada kulit maupun penyebaran dari getah bening. Apapun kumannya, abses bisa berkembang saat sistem imun melemah.

Gejala yang Membedakan

Mastitis dan abses memang memiliki gejala yang tumpang tindih, namun ada beberapa ciri pembeda yang dapat diperhatikan. Pada mastitis, gejala yang dominan adalah:

  1. Payudara terasa hangat, merah, dan membengkak
  2. Nyeri ringan hingga sedang
  3. Demam atau rasa lelah
  4. Biasanya terjadi hanya pada satu sisi

Sedangkan pada abses payudara, gejala yang muncul umumnya lebih parah dan spesifik, seperti:

  1. Timbulnya benjolan lunak atau keras yang terasa sangat nyeri saat disentuh
  2. Rasa berdenyut di area infeksi
  3. Kemerahan lokal yang lebih pekat dan terbatas
  4. Kadang muncul cairan atau nanah dari permukaan kulit
  5. Demam tinggi yang lebih menetap

Pada beberapa kasus, abses dapat terasa seperti “kantung penuh cairan” yang menekan jaringan sekitar, berbeda dengan mastitis yang lebih menyebar dan inflamatorik.

Ilustrasi pejuang kanker

Faktor Risiko

Setiap wanita memiliki risiko berbeda terhadap mastitis dan abses payudara. Mastitis lebih umum terjadi pada ibu menyusui, terutama saat ASI tidak dikeluarkan secara optimal, terjadi luka di puting, atau penggunaan bra yang terlalu ketat. 

Di sisi lain, abses payudara bisa terjadi pada siapa saja, termasuk wanita yang tidak menyusui. Beberapa faktor risiko umum dari abses meliputi:

  1. Riwayat mastitis berulang yang tidak tertangani
  2. Perokok aktif
  3. Diabetes atau gangguan imunitas
  4. Luka terbuka di payudara yang tidak dibersihkan
  5. Penggunaan implan payudara atau prosedur invasif lain.

Selain faktor diatas tersebut, menurut penelitian dari Leo Francis Tauro, dkk, 2011, infeksi tuberkulosis (TB) juga dapat menjadi penyebabnya, meskipun kasusnya lebih jarang. Mastitis atau Abses TB umumnya terjadi karena kontak dengan penderita TB, sistem imun yang kurang baik, penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan imun, dan nutrisi yang kurang baik.

Pengobatan yang Dibutuhkan

Pendekatan pengobatan sangat berbeda antara mastitis dan abses. Untuk mastitis ringan, perawatan bisa dilakukan di rumah dengan:

  1. Kompres hangat dan pemijatan lembut untuk melancarkan aliran ASI
  2. Menyusui secara teratur atau memompa ASI agar tidak menumpuk
  3. Konsumsi antibiotik jika terdapat infeksi bakteri
  4. stirahat cukup dan hidrasi

Namun, abses payudara membutuhkan penanganan medis karena adanya nanah yang perlu dikeluarkan. Prosedur umum meliputi:

  1. Drainase melalui sayatan kecil oleh dokter
  2. Penggunaan jarum suntik dan ultrasonografi untuk abses kecil
  3. Antibiotik spektrum luas setelah tindakan drainase
  4. Pemantauan lanjutan untuk mencegah infeksi ulang

Jika dibiarkan, abses bisa menyebabkan kerusakan jaringan dan komplikasi serius, termasuk penyebaran infeksi ke area lain.

Pentingnya Deteksi Dini

Rutin memeriksa dan menjaga kondisi payudara sendiri, baik saat menyusui maupun tidak, menjadi langkah penting dalam pencegahan mastitis dan abses. Pemeriksaan di fase-fase awal  dapat menghindarkan Anda dari tindakan medis yang lebih invasif. Beberapa hal yang dapat dilakukan:

  1. Lakukan Sadari meskipun sedang menyusui. 
  2. Tidak mengabaikan nyeri atau benjolan meskipun kecil.
  3. Segera periksa ke dokter jika payudara terasa panas, nyeri luar biasa, atau muncul cairan tak biasa.
  4.  Hindari memencet atau mengurut benjolan tanpa petunjuk medis.

Kesimpulan

Meskipun sering disalahartikan, mastitis dan abses payudara adalah dua kondisi yang berbeda dan memerlukan penanganan yang tidak sama. Mastitis adalah bentuk awal dari peradangan yang masih bisa ditangani dengan terapi sederhana, sementara abses sudah memasuki fase infeksi parah yang memerlukan tindakan medis. Dengan memahami perbedaannya dan rutin memeriksa kondisi payudara, wanita dapat mencegah komplikasi dan menjaga kesehatan payudaranya secara lebih optimal.

Rekomendasi Klinik Pengobatan Kesehatan Payudara Terbaik

Jangan tunggu hingga gejala memburuk. Kesehatan payudara Anda berharga dan perlu penanganan dari tenaga medis profesional. Jika Anda mengalami gejala atau membutuhkan perawatan medis yang profesional, MedicElle Clinic hadir dengan tim dokter spesialis dan fasilitas modern untuk memastikan penanganan yang aman dan efektif. Jadwalkan janji temu Anda untuk mendapatkan solusi medis terbaik bagi kesehatan payudara.

Segera konsultasikan keluhan Anda dengan dokter spesialis bedah perempuan. Hubungi kami melalui:

Our Location: Jalan Raya Gubeng no. 11 Surabaya, 60281
Email: cs.medicelle@gmail.com
Whatsapp: 08990118008
Office: +62 31 3000 9009
Customer Service: +62 31 3000 8008

Our Spesialist

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Icon